Saturday, 19 September 2026
Jaringan Media
Logo Site
TERPOPULER • PCNU dan PEMKAB BANYUWANGI Sinergikan Langkah untuk Kemaslahatan Umat • MANTABKAN LANGKAH, PCNU RAPAT KORDINASI • Nu Online Merancang Grand Planing 5 Tahun Kedepan • KEPALA BPN SAMBANGI PCNU • PENGUKUHAN LTNU, SEBAGAI WUJUD GERAKAN LITERASI NU BANYUWANGI • Optimalisasi Website NU Online, PCNU Banyuwangi Gelar Meet and Great Virtual Bersama NU Online • Pengurus Baru LKNU Banyuwangi Dikukuhkan, Siap Bangun Zona Hijau Kesehatan • GP Ansor Muncar Gelar Istighatsah Malam Petik Laut, Doakan Ikan Melimpah dan Ekonomi Nelayan Membaik • PCNU Banyuwangi Sambut Silaturahmi DPC PKB Jelang Harlah Ke-28, Teguhkan Sinergi untuk Umat • "MWC, Lembaga, dan Banom Harus Aktif dan Satu Komando," Tegas Ketua PCNU Banyuwangi dalam TURBA Ngerandu NU di Kalipuro

POTRET CALON NAKHODA PBNU

NU Online Banyuwangi

Editor 21 Aug 2026 18:57 WIB

Bagikan Artikel
Link berhasil disalin!

KH Abdul Hakim (Gus kikin)

Di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), nama KH. Abdul Hakim Mahfudz, atau yang lebih akrab disapa Gus Kikin, dikenal sebagai sosok yang memadukan tiga peran sekaligus: ulama pesantren, pemimpin organisasi, dan entrepreneur. Berangkat dari tradisi keilmuan Tebuireng, ia menunjukkan bahwa seorang kiai tidak hanya menjaga warisan ulama, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi untuk menjawab tantangan zaman.
Saat ini, Gus Kikin mengemban amanah sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024–2029 sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8. Kiprahnya menjadi salah satu representasi bagaimana tradisi pesantren dapat berjalan seiring dengan profesionalisme organisasi dan kemandirian ekonomi.

Lahir dari Keluarga Pendiri NU
KH. Abdul Hakim Mahfudz lahir di Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang, pada 17 Agustus 1958. Ia merupakan putra dari KH. Mahfudz Anwar, salah satu ulama kharismatik Jombang.
Dari jalur sang ibu, Nyai Hj. Abidah Ma'shum, Gus Kikin merupakan cicit Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng. Latar belakang keluarga inilah yang membentuk karakter kepemimpinannya: berakar kuat pada tradisi pesantren, namun memiliki pandangan luas terhadap perkembangan masyarakat.

Melanjutkan Estafet Tebuireng
Tahun 2020 menjadi momen penting dalam perjalanan hidup Gus Kikin. Setelah wafatnya KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah), beliau dipercaya menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.
Di bawah kepemimpinannya, Tebuireng terus berkembang sebagai salah satu pesantren terbesar di Indonesia. Tidak hanya memperkuat pendidikan diniyah dan formal, Tebuireng juga memperluas jaringan pesantren hingga memiliki berbagai cabang di sejumlah daerah.
Bagi Gus Kikin, pesantren harus tetap menjadi pusat lahirnya ulama sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Kiprah di Nahdlatul Ulama
Selain aktif di dunia pesantren, Gus Kikin juga memiliki perjalanan panjang dalam struktur Nahdlatul Ulama.
Beliau dipercaya menjadi salah satu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022–2027. Pada awal 2024, ia diamanahi sebagai Pejabat Ketua PWNU Jawa Timur, sebelum akhirnya terpilih secara definitif sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur melalui Konferensi Wilayah XVIII NU Jawa Timur.
Kepemimpinannya dikenal menekankan konsolidasi organisasi, penguatan pelayanan kepada warga, serta menjaga soliditas seluruh elemen NU di Jawa Timur.
Seiring dinamika menuju Muktamar NU ke-35, nama Gus Kikin juga mulai disebut sebagai salah satu tokoh yang diusung sejumlah PCNU dan PWNU untuk masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Kiai Entrepreneur
Salah satu sisi menarik dari Gus Kikin adalah pengalamannya di dunia usaha. Berbeda dengan gambaran umum seorang kiai yang hanya berkutat di lingkungan pesantren, beliau memiliki rekam jejak sebagai pelaku bisnis profesional.
Ia merupakan pendiri dan pemilik PT Energi Mineral Langgeng (EML) yang bergerak di sektor energi, serta mendirikan BBS TV, sebuah stasiun televisi lokal yang menghadirkan konten dakwah, pendidikan, dan informasi.
Pengalaman tersebut membuat Gus Kikin memiliki pandangan bahwa kemandirian ekonomi merupakan fondasi penting bagi kemajuan umat dan organisasi.

Merawat Literasi Pesantren
Walaupun tidak dikenal sebagai penulis kitab klasik yang produktif, Gus Kikin memiliki perhatian besar terhadap pengembangan literasi pesantren dan pelestarian karya ulama Nusantara.
Salah satu kontribusinya adalah menginisiasi lahirnya buku "Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari: Pemersatu Umat Islam Indonesia", yang merangkum perjalanan hidup, perjuangan, dan pemikiran pendiri NU. Buku tersebut disusun bersama tim penulis Tebuireng berdasarkan gagasan dan arahan beliau.
Di bawah kepemimpinannya pula, Tebuireng aktif melakukan:

  • Penerbitan ulang karya-karya KH. Hasyim Asy'ari dalam satu edisi yang lebih mudah dipelajari.
  • Digitalisasi manuskrip dan naskah kuno agar tetap terjaga sebagai warisan intelektual pesantren.
  • Pengembangan media dakwah digital melalui website, majalah, video edukasi, dan berbagai platform media sosial.

Bagi Gus Kikin, menjaga warisan ulama tidak cukup hanya dengan mengajarkannya di kelas, tetapi juga harus menghadirkannya dalam format yang mudah diakses oleh generasi muda.

Gagasan tentang Nahdlatul Ulama
Dalam berbagai kesempatan, Gus Kikin menegaskan bahwa NU harus tetap berdiri di atas Khittah 1926, yaitu sebagai organisasi sosial-keagamaan yang mengabdi kepada umat, bukan menjadi alat kepentingan politik praktis.
Menurut beliau, ada beberapa agenda besar yang harus menjadi perhatian NU ke depan.

  • Pertama, menjaga independensi organisasi. NU harus mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh warga tanpa membedakan pilihan politik ataupun latar belakang kelompok.
  • Kedua, membangun kemandirian ekonomi. Organisasi yang kuat membutuhkan fondasi ekonomi yang sehat. Karena itu, beliau mendorong penguatan koperasi, UMKM, badan usaha NU, hingga pengelolaan sektor strategis secara profesional agar warga NU semakin mandiri.
  • Ketiga, memperkuat tata kelola organisasi. Gus Kikin meyakini bahwa organisasi sebesar NU memerlukan sistem administrasi yang modern, transparan, dan akuntabel. Digitalisasi menjadi salah satu langkah penting agar pelayanan kepada warga berjalan lebih efektif.
  • Keempat, mengembangkan dakwah yang ramah dan adaptif. Di era digital, media sosial bukan lagi sekadar ruang komunikasi, tetapi juga ruang dakwah. Karena itu, NU harus hadir dengan konten yang menyejukkan, mencerdaskan, dan mampu menjadi penyeimbang berbagai narasi ekstrem di ruang digital.
  • Kelima, membumikan kembali pemikiran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Menurut Gus Kikin, kitab-kitab dan pemikiran para pendiri NU harus terus dikaji oleh seluruh kader agar arah perjuangan organisasi tetap berpijak pada nilai-nilai Aswaja dan cita-cita para muassis.

Dengan demikian, KH. Abdul Hakim Mahfudz merupakan contoh bagaimana seorang kiai dapat memadukan tradisi, kepemimpinan, dan profesionalisme dalam satu perjalanan pengabdian. Dari pesantren, organisasi, hingga dunia usaha, beliau terus menunjukkan bahwa kemajuan Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan sejarah, tetapi juga memerlukan inovasi, tata kelola yang baik, dan kemandirian ekonomi.
Melalui Tebuireng, PWNU Jawa Timur, serta berbagai gagasan yang ia usung, Gus Kikin menghadirkan wajah NU yang tetap berakar pada nilai-nilai para pendiri, namun siap melangkah menghadapi tantangan masa depan.

Penulis : Gus Himami Andalusia

Ditulis Oleh

NU Online Banyuwangi

Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.

Membuka dokumen...

Link berhasil disalin!